”Manggarai Timur matahariku, cintaku padamu!”

Jumat, 17 Juli 2026

𝙇𝙄𝙈𝘼 𝙈𝙐𝙍𝙄𝘿 𝙋𝙀𝙍𝙀𝙈𝙋𝙐𝘼𝙉 𝙋𝙀𝙍𝙏𝘼𝙈𝘼 𝙎𝙍 𝙒𝘼𝙀𝙍𝘼𝙉𝘼


𝙇𝙄𝙈𝘼 𝙈𝙐𝙍𝙄𝘿 𝙋𝙀𝙍𝙀𝙈𝙋𝙐𝘼𝙉 𝙋𝙀𝙍𝙏𝘼𝙈𝘼 
𝙎𝙍 𝙒𝘼𝙀𝙍𝘼𝙉𝘼

Sejarah sering kali tidak tersimpan di monumen atau buku sejarah. Kadang ia justru berdiam tenang di dalam buku stambuk tua yang nyaris terlupakan.

Demikian pula yang saya temukan saat menelusuri arsip murid Sekolah Rakyat (SR) Waerana tahun masuk 1925.

Di antara puluhan nama yang tercatat, lima nama seakan memanggil untuk dibaca lebih lama.

Mereka adalah:
 

1. 𝗠𝗼𝗻𝗶𝘀 dari 𝗠𝗯𝗲𝗹𝗮𝗿; lahir tahun 1917; anak dari 𝗧𝗲𝗮𝗸 dan 𝗡𝗱𝗼𝗶.  

2. 𝗗𝗼𝗿𝗼𝘁𝗵𝗲𝗮 𝗞𝗮𝘀𝗶 dari 𝗠𝗯𝗲𝗿𝗼𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗴𝗼𝗲𝘀; lahir tahun 1917; anak dari 𝗕𝗮𝗴𝗼𝗻𝗴 (tulisan tidak terbaca) dan 𝗞𝗷𝗮𝗽𝗶 (tulisan tidak terbaca); dengan keterangan pindah sekolah ke 𝗦𝗲𝗸𝗼𝗹𝗮𝗵 𝗡𝗱𝗼𝗻𝗮.  

3. 𝗘𝘀𝘁𝗵𝗲𝗿 𝗠𝗯𝗮𝗱𝗷𝗼𝗲𝗻𝗴 dari 𝗠𝗯𝗲𝗿𝗼𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗴𝗼𝗲𝘀; lahir tahun 1916; anak dari 𝗘𝗸𝗼 dan 𝗟𝗮𝗹𝗼𝗻𝗴; dengan keterangan pindah sekolah ke 𝗦𝗲𝗸𝗼𝗹𝗮𝗵 𝗡𝗱𝗼𝗻𝗮.  

4. 𝗕𝗼𝗴𝗼𝘀 dari 𝗠𝗯𝗲𝗿𝗼𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗴𝗼𝗲𝘀; lahir tahun 1916; anak dari 𝗜𝘄𝗼𝗲𝗻𝗴 dan 𝗟𝗼𝗸𝗶𝗻.  

5. 𝗢𝘄𝗲 dari 𝗠𝗯𝗲𝗿𝗼𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗴𝗼𝗲𝘀; lahir tahun 1916; anak dari 𝗟𝗼𝗲𝗱𝗷𝗼𝗲 dan 𝗪𝗼𝗲𝗱𝗼𝗸; dengan keterangan pindah ke 𝗣𝗼𝗱𝗼𝗹.  

(𝑇𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑛 𝑛𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑚𝑎 𝑛𝑒𝑛𝑒𝑘 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑘𝑢𝑡𝑖𝑝 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑎𝑠𝑙𝑖𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝐵𝑢𝑘𝑢 𝐼𝑛𝑑𝑢𝑘 𝑃𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎 𝑆𝑅 𝑊𝑎𝑒𝑟𝑎𝑛𝑎. 𝑀𝑜ℎ𝑜𝑛 𝑚𝑎𝑎𝑓, 𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑙𝑖𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑎𝑐𝑎.)

Kelima nama ini memiliki makna khusus dalam sejarah SR Waerana. Berdasarkan arsip yang dapat ditelusuri hingga kini, merekalah murid perempuan pertama yang tercatat. Mereka diterima pada tahun 1925, tiga tahun setelah sekolah ini dibuka pada 10 Januari 1922.

Sulit membayangkan keadaan masa itu. Pendidikan belum mudah dijangkau, sarana sangat terbatas, dan kesempatan belajar bagi anak perempuan belum seluas sekarang.

Namun di tengah segala keterbatasan, kelima anak perempuan ini berani melangkah masuk ke ruang kelas. Mereka menjadi bagian dari generasi awal yang merasakan pendidikan formal di SR Waerana.

Barangkali Mbo Monis, Mbo Dorothea Kasi, Mbo Esther Mbadjoeng, Mbo Bogos, dan Mbo Owe tak pernah membayangkan bahwa satu abad kemudian nama mereka masih dibaca, dikenang, dan diceritakan kembali oleh anak cucu.

Bagi keturunan mereka berlima, arsip ini tentu menjadi sumber kebanggaan. Demikian pula bagi masyarakat Kampung Mberumbengus dan Kampung Mbelar. Dari kampung-kampung tua yang tetap lestari ini lahir putri-putri yang membuka lembaran awal sejarah pendidikan perempuan di SR Waerana.

Sebagai putra Kampung Mberumbengus, saya pun bangga menemukan kembali arsip ini. Bukan karena nama kampung saya lebih banyak disebut, melainkan karena saya menyadari bahwa sejarah kerap tersembunyi di lembaran-lembaran tua yang nyaris hilang. Saat dibuka kembali, nama-nama yang puluhan tahun diam di atas kertas seakan hidup kembali dalam ingatan..

Kini kita memang tak lagi dapat memandang wajah mereka. Namun melalui stambuk tua kita tahu: mereka pernah ada, pernah belajar, pernah bermimpi, dan pernah mengukir sejarah.

Arsip boleh menua, tinta boleh memudar. Namun nama-nama pembuka jalan tak boleh dilupakan.

Mungkin dari cerita-cerita keluarga merekalah kita dapat melengkapi sejarah yang belum sempat ditulis oleh arsip.

Oleh karena itu, saya mengajak keluarga dan keturunan dari kelima nenek ini untuk berbagi cerita tentang mereka di kolom komentar. Setiap kenangan, sekecil apa pun, dapat menjadi bagian penting dalam melengkapi sejarah bersama.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar