DOKUMEN KERJA
PASANGAN LEKSIKAL BAHASA KOLOR
Ringkasan Temuan Sementara (Versi 1)
Catatan
Dokumen ini merupakan ringkasan sementara hasil penelitian tentang pasangan leksikal Bahasa Kolor. Seluruh makna masih bersifat sementara berdasarkan ingatan dan penjelasan penutur asli. Setiap entri masih terbuka untuk revisi apabila ditemukan contoh penggunaan yang lebih tepat atau informasi baru dari penutur lain.
A. POLA BUNYI UU–AA
1. ruku raka
Makna sementara: tiruan bunyi benda yang berjatuhan.
2. guku gakang
Makna sementara: tiruan bunyi benda yang berjatuhan.
3. wutuk wata'
Makna sementara: keadaan benda yang banyak berserakan, misalnya buah-buah yang jatuh dari pohon.
4. tuku taka
Makna sementara: perilaku tergesa-gesa atau terburu-buru.
5. suru salang
Makna sementara: perkawinan yang tidak sesuai dengan aturan adat mengenai pasangan yang semestinya.
6. uru arat
Makna sementara: tiruan bunyi banyak benda yang jatuh secara bersamaan.
7. ghusuk ghasa'
Makna sementara: belum diketahui.
B. POLA BUNYI UI–AI
8. muik mai'
Makna sementara: wajah tersenyum.
9. muri maris
Makna sementara: tersenyum-senyum. Diduga berasal dari kata dasar muris.
10. rugi raging
Makna sementara: marah-marah.
11. lumik lami'
Makna sementara: perilaku perempuan yang mencari perhatian.
12. lu'i la'it
Makna sementara: berbicara atau bertingkah macam-macam.
13. dughi daghit
Makna sementara: dua benda yang sangat mirip.
14. puri parit
Makna sementara: sesuatu yang mirip atau hampir sama.
C. POLA BUNYI IO–AO
15. nigo nagos
Makna sementara: berjalan seperti orang yang sakit pinggang.
16. tibo tabos
Makna sementara: keadaan perut buncit dan tampak tidak sehat.
17. misok maso'
Makna sementara: raut wajah ketika gugup.
18. rigo ragon
Makna sementara: kondisi tubuh yang sangat kurus.
19. liok lao'
Makna sementara: mata bergerak mengawasi ke berbagai arah.
20. rinok rano'
Makna sementara: kondisi dekil atau kotor sehingga tampak menjijikkan.
D. POLA BUNYI II–AA
21. rigi ragan
Makna sementara: sejenis serangga.
22. ligi lagan
Makna sementara: gerakan spontan, tiba-tiba berdiri atau berjalan.
23. imi amas
Makna sementara: tidak tahu harus berbuat apa karena merasa bersalah.
E. POLA BUNYI IU–AU
24. ri'uk ra'uk
Makna sementara: menggerakkan tubuh berlebihan seperti saat bekerja berat atau berolahraga.
25. liur lau'
Makna sementara: perilaku menghindar atau menyelinap di tengah kerumunan.
26. siu saut
Makna sementara: saling tarik-menarik memperebutkan sesuatu.
F. POLA BUNYI LAINNYA
27. rikuk raku'
Makna sementara: kondisi tubuh sangat kurus atau krempeng.
28. wara wangas
Makna sementara: belum diketahui.
29. wingi wangas
Makna sementara: kondisi bibir atau mulut meringis.
30. ringi rangas
Makna sementara: kondisi bibir atau mulut meringis.
31. wisi wasal
Makna sementara: pembicaraan yang tidak penting, tidak serius, serta mengganggu pembicaraan.
32. wolo walan
Makna sementara: keadaan terlanjur.
33. lodi lodos
Makna sementara: kondisi anak mata agak menonjol.
34. luzang lazat
Makna sementara: diduga berkaitan dengan kata luzat (muka loyo).
35. ghobi ghobol
Makna sementara: berbicara banyak dengan irama cepat, tetapi tidak penting.
36. ghabi ghabat
Makna sementara: belum diketahui.
37. ghole ghales
Makna sementara: berjalan atau melangkah berulang kali di depan orang tanpa permisi.
38. ghoro ghotok
Makna sementara: tiruan bunyi orang berbicara cepat.
39. ghoro ghosor
Makna sementara: mengingsut.
40. ghara ghatar
Makna sementara: merangkak seperti biawak, kadal, atau hewan berkaki empat lainnya.
41. zilek zale'
Makna sementara: pembicaraan yang tidak penting dan tidak serius. Makna masih perlu dibedakan lebih jelas dari wisi wasal.
42. metik meto'
Makna sementara: belum diketahui.
43. nganga boa
Makna sementara: keadaan mulut menganga seperti ikan yang megap-megap.
44. wuru weren
Makna sementara: belepotan oleh cairan atau kotoran.
45. wilak wita'
Makna sementara: keadaan sesuatu yang encer, becek, atau menjijikkan.
46. nggiri nggamang
Makna sementara: meraba-raba sesuatu.
47. tonggo wonggo
Makna sementara: duduk berjongkok.
48. tonggo roa
Makna sementara: terbanting ke belakang.
CATATAN SEMENTARA
1. Seluruh definisi di atas masih bersifat sementara dan akan terus disempurnakan.
2. Penjelasan makna didasarkan pada situasi penggunaan, bukan sekadar padanan kata dalam bahasa Indonesia.
3. Beberapa pasangan diduga berasal dari kata dasar, sedangkan sebagian lainnya tampaknya merupakan pasangan leksikal yang berdiri sendiri.
4. Penelitian masih akan dilanjutkan dengan penambahan kosakata baru, penyempurnaan makna, contoh kalimat, serta pengelompokan berdasarkan fungsi semantis dan kelas kata.
* Dokumen Kerja Penelitian Pasangan Leksikal Bahasa Kolor
* Edisi 2026.1 (30 Juli 2026)
Tambahan Data
(30 Juli 2026)
Kosakata baru yang berhasil didokumentasikan antara lain:
Welong walot, Rego ragong, Peso pasong, Medok mado', Peo paot, Ghabi ghabat, Galik gama', Ghole ghales, Lope lapet, Pote patel, Lole loter, Woleng walet, Ambi ambang, Embo ambon, Raka rebon, Iru aput, Mbitu mbatur, Ali ole', dan Sipo sapok.
Beberapa di antaranya telah berhasil dijelaskan maknanya, antara lain:
Welong walot : gerakan mata parang yang diayunkan, diputar, atau digerakkan secara berlawanan.
Lole loter : bersuluran atau berlilitan pada tumbuhan; dalam arti kiasan menggambarkan pembicaraan yang berbelit-belit.
Woleng walet : bersuluran.
Ambi ambang : berjalan melewati atau melangkahi di depan orang dengan tidak sopan.
Raka rebon : ungkapan yang lazim digunakan sebagai pembuka percakapan, kurang lebih setara dengan "omong-omong" dalam bahasa Indonesia.
Mbitu mbatur : ngelantur atau berbicara tidak terarah.
Ali ole' : mengelak, tidak terus terang, tidak jujur, atau mencari alasan.
Sipo sapok : kebanyakan bicara.
Embo ambon : maknanya masih belum dapat dirumuskan dan memerlukan data tambahan.
Salah satu temuan yang menarik adalah leksem iru aput. Secara makna, leksem ini berkaitan dengan ungkapan "tahu-menahu", tetapi dalam pemakaian sehari-hari tampaknya hampir selalu muncul dalam kalimat negatif, misalnya Za'o mbaen iru aput Pange Kolor (Saya tidak tahu-menahu Bahasa Kolor). Penggunaan dalam kalimat positif sejauh ini belum ditemukan atau terasa tidak lazim. Fenomena ini memperlihatkan bahwa selain memiliki pola bunyi yang khas, beberapa leksem berpasangan Bahasa Kolor juga memiliki kekhasan dalam aturan penggunaannya.
Data yang diperoleh pada sesi ini juga menambah beberapa kelompok pola bunyi yang telah teridentifikasi, yaitu eo–ao, ai–aa, oe–ae, eo–ae, iu–au, ai–oe, aa–eo, dan io–ao. Dengan semakin banyaknya contoh yang terkumpul, semakin tampak bahwa perubahan bunyi pada leksem berpasangan mengikuti pola tertentu, baik pada perubahan vokal maupun konsonan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar